Headline

Total Pengunjung

Advertorial

Berita Terkini

Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

16/09/13

Teguh Herdi Sancoyo, SPd MM Melangkah Pasti Meraih Prestasi



Sosok yang satu ini memang pas dan tepat menjadi seorang pendidik. Sabar, enerjik, ramah dan tulus dalam pengabdian adalah profil kesehariannya. Sebagai seorang pendidik yang kini di percaya mengemban amanah untuk  menjabat Kepala Bagian Pemuda dan Olah Raga (Kabid POR) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dindikpora) Kabupaten Tegal terbilang luar biasa dalam prestasi. Dalam bekerja ia tidak setengah-setengah. Dengan kedudukannya yang sekarang  dia mengaku memperoleh kesempatan untuk mengaktualisasikan ide-idenya dan bertekad untuk meraih prestasi terbaik. Ia pun layak dijadikan inspirasi untuk berbuat lebih banyak bagi pendidikan.
“Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang, melakukan proses pendidikan dengan benar-benar, sungguh-sungguh dan selalu berorientasi masa depan. Semua pelaku pendidikan harus mampu memegang amanah mencerdaskan kehidupan bangsa. Agar kelak bangsa ini lebih bermartabat, jaya dan berdaya saing,” ujar Teguh Herdi Sancoyo, SPd MM.
Dalam tubunya mengalir jiwa seni yang begitu kental dengan bermacam bidang seni digeluti, seni suara, seni tari, seni drama, seni sastra maupun seni berorganisasi mampu diekspresikan dengan baik dan penuh penjiwaan. Bakatnya yang luar biasa membuat banyak orang mengenal sosoknya sebagai orang yang menyukai tantangan, tanggung jawab dan multitalenta.
Di dunia tarik suara, ia emiliki suara sopran yang merdu menggema mirip Broery Marantika, lagu ciptaanya juga pernah masuk dapur rekaman. Sebelum menjadi Ketua I Dewan Kesenian Kabupaten Tegal, ia juga peduli seni budaya dengan ikut mengangkat dan menggerakkan kesenian di Kabupaten Tegal. Salah satunya di wilayah Jatinegara. Tidak ketinggalan aktif juga di PAPPRI (Persatuan Artis Pencipta Penata Musik dan Rekaman Indonesia)
Seperempat Abad Mengabdi Di Jatinegara
Sebagai seorang PNS ia sudah seperempat abad mengabdi di Jatinegara. Ia mampu membuktikan bahwa Kecamatan Jatinegara yang dulu identik dengan kecamatan buangan, terisolir dan sebagai tempat karantina orang-orang yang bermasalah, sekarang menjadi tempat orang-orang yang berprestasi. Imej buruk itu perlahan sirna berkat kerjasamanya dengan muspika dan tokoh masyarakat setempat.
“Kami ingin membuktikan bahwa kami mampu beradaptasi dengan lingkungan geografis yang kurang baik jika dibandingkan daerah lain, dan ternyata kami bisa. Seperempat abad kami mampu beradapatasi dengan kondisi seperti ini,” kata Teguh, kala itu.
Mengawali pengabdiannya di SDN Kedungwungu 1, 25 tahun di Dinas P & K dan tahun 2000 masuk menjadi Penilik Pembinaan generasi muda. Aktif di beberapa organisasi kepemudaan, diantaranya, sebagai Andalan Cabang di Pramuka bidang pendidikan, tergabung dalam Komite Pemberdayaan Ekonomi Koperasi KNPI, sebagai Pembina Karang Taruna Kecamatan di Departemen Seni dan Budaya Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Tegal, Ketua Persekat ranting Jatinegara dan lain-lain.
Secara dinas dan pribadi sangat peduli dengan semua permasalahan yang ada, karena memang itulah tugas, pokok dan fungsi (Tupoksi) sebagai Penilik PNS. Ia waktu itu bersama dengan Kepala UPTD Dinas P & K Kecamatan Jatinegara, Heri Sucianto, SH beserta jajarannya mampu menghimpun, merekrut yang tidak mampu bersekolah karena berbagai faktor masalah ekonomi melalui kejar paket A-B-C. Dan yang paling menjadi konsentrasinya masa itu adalah Keaksaan Fungsional, yaitu proses percepatan tuntas buta aksara.
Dia mengisahkan dulu angka buta aksara di Kabupaten Tegal pada tahun 2006 tergolong tinggi, mencapai 20 ribu jiwa yang 2.697 jiwa diantaranya adalah warga Kecamatan Jatinegara. Kenyataan itu menempatkan Kabupaten Tegal kala itu pada rangking 3 besar di Jateng, dan 12 besar untuk tingkat nasional sebagai penyandang predikat buta aksara. Walaupun memprihatinkan, namun semangat menuntaskan buta aksara terus diwujudkan hingga terbitnya ‘Sukma’ yakni, surat bukti bahwa warga belajar melek aksara/ bukan buta aksara lagi.
Pihaknya dalam bekerja menggunakan rasio, semua di otak atik dengan menggunakan matematika, sehingga permasalahan yang muncul di lapangan bisa diperhitungkan. “Percepatan buta aksara sendiri ada 3 tingkatan yaitu, awal pembelajaran yang dinamakan pemberantasan, setelah lulus pemberantasan naik ke pembinaan, setelah itu baru naik ke pelestarian. Dan di pembinaan ada penambahan materi life skill, atau materi ketrampilan hidup. Kegiatan tersebut mendapat respon sangat bagus dari masyarakat setempat, mengingat hampir setiap desa di kecamatan ini telah memiliki kelompok-kelompok belajar,” jelasnya.
Menuju Gedung SKPD Termegah
Setelah sekian lama berkutat di Jatinegara, karir pun berlanjut ke wilayah Kedung Banteng dan Pangkah. Pengabdian, totalitasnya dan prestasi yang diraihnya mendudukan seorang Teguh Herdi sebagai Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Kedung Banteng, hingga bergeser ke wilayah Pangkah dengan jabatan yang sama. Di dua wilayah tersebut sekalilagi ia mampu berbaur dengan masyarakat setempat. Maklum dia yang rendah hati memang dikenal supel dan pandai bergaul.
Baginya pengalaman hidup yang penuh liku membuatnya semakin dewasa dalam bersikap. Hingga susah tak berarti harus menjadi tangis yang tersedu, sementara senang pun juga tak diartikan dengan tawa terbahak. Sampai akhirnya pada satu ketika, suami dari Ratna Dumila dan ayah dari Erlinda ini dipercaya mengemban tugas sebagai Kabid POR Dindikpora dengan menempati gedung SKPD termegah di Kabupaten Tegal. “Memang semua itu membutuhkan waktu yang lama. Tapi inilah sebuah proses, karena tiada sesuatu yang instan jika ingin menghasilkan sesuatu yang berkualitas. Karena sukses adalah perjalanan, perjalanan menuju ke tahap berikutnya,”ujarnya.
Peduli Seni Budaya
Memelihara dan menjaga waktu bukan berarti harus mengisi semua dengan pekerjaan dan aktivitas, tidak semua waktu dalam hidup ini adalah kerja keras yang terus menerus tiada henti dan tiada waktu istirahat, dan bahkan harus bermuka tegang, tidak ada ketawa ataupun muka ceria, namun disini bermaksud bahwa waktu luang dan istirahat jangan sampai merampas dan mengalahkan waktu untuk bekerja, beramal dan berkarya. Dalam kondisi bagaimanapun, dia senantiasa memberikan yang terbaik dalam hidup ini, senantiasa menyalakan semangat dan membuktikan pada semesta.
Teguh yang dulu di Jatinegara punya andil dalam memajukan musik, terbukti saat itu adanya 5 kelompok Orkes Malayu, 3 kelompok Organ Tunggal, 1 kelompok Karawitan dan Ketoprak serta 50 grup Terbang Kencer, termasuk menggelar even lomba vokal dangdut dan parade band. Dibidang budaya khususnya peninggalan sejarah dan pelestariannya, dia termasuk orang yang peduli, hal itu dibuktikan dengan keberadaan Seni Sintren di Desa Tamansari yang merupakan satu hal yang spesifik dan istimewa, serta Situs Purbakala dan Cagar Budaya berupa Lumbung Padi yang masih utuh dan asli.
Dia yang gemar naik motor traill ini selalu terobsesi untuk mewujudkan impiannya selama ini, yakni menghidupkan kembali kesenian asli Tegal yang nyaris punah seperti, Seni Sintren Desa Tamansari, Seni Lais Desa Gantungan dan Balo-balo Desa Lebakwangi Jatinegara. Ia pun tak canggung dan sering merasa rindu dengan masyarakat Jatinegara. Ia bersama rombongan guru seni budaya dan pecinta seni lainnya sering menyambangi daerah yang ikut membesarkan namanya.
Rupanya memang benar, dia tidak hanya seorang pendidik yang tekun, namun juga seorang seniman. Tidak tanggung-tanggung lagu ciptaanya bahkan pernah masuk dapur rekaman di tahun 1983. Tidaklah mengherankan bila dia yang didapuk sebagai Ketua I Dewan Kesenian Kabupaten Tegal sampai kini masih tetap eksis di dunia musik dan cipta lagu.
Teguh menceritakan, waktu itu di tahun 80-an, dia dan temannya seniman kampung sedang mengobarkan potensi seni. Berkibarnya Secha Rossa Band milik PG Pangkah yang sempat rekaman di Remaco telah melecut semangat anak-anak kampung untuk meneruskan jejak Secha Rossa Band. Hingga akhirnya terbentuklah band kampung yang digawangi Vosca (ex gitaris Secha Rossa) dan Teguh sebagai drummer. Sayang jejak sukses Secha Rossa sulit untuk di kejar. Alhasil, masing-masing termasuk dirinya beralih menjadi pencipta lagu sesuai apa yang sedang dialami waktu itu, yakni masa-masa kasmaran.
Satu ketika temen dari Bumijawa yang kebetulan kuliah di Jakarta berambisi menjadi vokalis, berhasil lolos best vocal di CHG Record milik Charles Hutagalung pada Oktober 1983. Temen tersebut adalah MG Marheinismanto alias Oni yang kini menjadi wakil rakyat di DPRD KabupatenTegal. Oni lantas masuk dapur rekaman dan harus membawakan lagu yang belum pernah di rekam sebelumnya. Maka di bawalah oleh Oni sebuah lagu yang berjudul ‘Patah Hati’ ciptaan Teguh Herdi.
“Lirik lagu tersebut album perdana produksi CHG Record dengan label ‘Anak Jalanan’. Posisi Oni pada ZA Nomor 3 dengan pengiring CHG Band, Aranger music Mus Mujiono. Launching lagu pada Maret 1984 dan sempat meledak di Jakarta. Lagu tersebut juga sempat masuk best sealler (penjualan terbaik) hanya sayang kurang promosi di daerah,” ungkapnya.
Dia yang aktif di PAPPRI (Persatuan Artis Pencipta Penata Musik dan Rekaman Indonsia) saat ini masih menyimpan 8 lagu ciptaannya, baik yang tertulis maupun di memori benaknya. Diantaranya, Ibu, Balada Penebang Tebu, Benci, Kau Pura-Pura, Keheningan, Potretmu,, Patah Hati 2 dan Guru Di Kaki Gunung. Lagu Balada Penebang Tebu di ubahnya kedalam bahasa Tegalan dengan judul ‘Damar Kanginan’
Beberapa penghargaan ia raih, salah satunya adalah sebagai Penggiat Seni Budaya Tegal pada acara Rakyat Tegal Moci Bareng dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Tegal ke 411 dan lain sebagainya. Dia juga turut hadir dalam Launching Lagu Tegalan di Pendopo Balaikota Tegal.(didik yuliyanto)  

14/09/13

Paguyuban Tamansari Eksis Lestarikan Ronggeng

Teguh Herdi Sancoyo ( No.2 Dari Kiri )   
SLAWI(MP)- Malam itu cuaca cukup cerah dam bersahabat. Suasana desa yang biasanya nampak sepi, berubah menjadi ramai. Masyarakat yang setiap malamnya banyak menghabiskan waktu santainya didalam rumah, berbondong-bondong ngeluruk balai desa. Rasa penasaran dari beberapa warga setempat terjawab sudah. Masyarakat desa senang dengan adanya pertunjukan seni yang menghibur, dan juga kedatangan tamu pecinta seni.
Ya, rombongan Tim Pecinta Seni Tradisional Kerakyatan yang dipandegani Kabid Pemuda dan Olah Raga (POR) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dindikpora) Kabupaten Tegal, Teguh Herdi Sancoyo, SPd MM bertandang ke Balai Desa Tamansari, Kecamatan Jatinegara. Mereka diantaranya, Mujiarti SPd guru Seni Budaya SMP Negeri 1 Adiwerna, Junaidi SPd guru Seni Budaya  SMA Negeri 3 Slawi dan Endri Muris Jatmiko SPd guru SMP Negeri 1 Slawi. Kedatangan rombongan untuk menyaksikan pagelaran seni karakyatan ‘Ronggeng’ yang dimainkan oleh Paguyuban Sukma Sari pimpinan Suwandi.
Jumat malam itu, penari nan gemulai gerakannya menarik semua mata, membuat penyawer hanyut dalam tarian. Si Manis dan Yati Sang Rongeng cantik itupun terus menari, menghibur dan larut dalam alunan tembang-tembang Jawa dan Tegalan oleh lantunan Sinden cantik, Supriyati. Ketrampilan Nayogo dalam memainkan gamelan menambah pertunjukan seni kerakyatan malam itu menjadi semarak dan rancak. Ronggeng Tamansari memang layak diapresiasi.
“Sebetulnya Sukma Sari adalah pemberian nama untuk grup Sintren, namun karena Sintren hanya dimainkan di musim kemarau yang bertujuan untuk meminta hujan, maka saat Sintren tidak dimainkan, Ronggeng-lah sebagai pengisi kegiatan Paguyuban Sukma Sari agar tetap eksis didunia seni kerakyatan,” terang Roso, selaku Pembina.
Dia mengungkapkan, ada kejadian aneh yang tertangkap saat pegelaran Ronggeng berlangsung. Waktu itu salah satu pengunjung meminta para Nayogo untuk memainkan lagu ‘Eling-eling’ Intro gamelan baru dimanikan, sontak Yati tidak sadarkan diri alias kesurupan. Menurut Karnadi selaku pawang, Yati adalah seorang penari Sintren, hatinya sudah ada ikatan dengan hal-hal yang berbau Sintren, entah itu musik maupun lagu yang biasa dimainkan dalam pertunjukan Sintren.
Sementara dalam kesempaatn itu, Teguh Herdi mengatakan, Ronggeng Tamansari adalah salah satu keunikan dari seni kerakyatan yang harus tetap dilestarikan sebagai budaya leluhur nenek moyang bangsa Indonesia. Pihaknya merasa kagum dengan masyarakat  Desa Tamansari yang dengan antusias baik tua maupun muda menyaksikan pementasan Ronggeng sampai selesai.
“Inilah yang namanya berkesenian, ada interaksi antara pelaku dengan penonton. Pelaku senang menyajikan, penonton senang menikmati, maka kesenian akan berjalan dan lestari,” kata Teguh yang publis di Jatinegara.
Dia menambahkan, di Kecamatan Jatinegara khususnya di Desa Tamansari ternyata tidak hanya Ronggeng yang dilestarikan. Karena disamping Sintren, Lais (sintren Laki-laki) ada juga Jaran Ebeg (Kuda Lumping) yang masih sering dipertunjukan.(didik yuliyanto)

30/08/13

Mengenali sosok pahlawan Jendral Sudirman, Museum Jendral Sudirman, Magelang

     Dahulu museum ini merupakan rumah peristirahatan Tentara yang pada masa perang kemerdekaan merupakan kediaman Jendral Sudirman. Panglima Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia  yang pertama atau sebagai Bapak Tentara Nasional Indonesia.
     Jendral Sudirman adalah sosok patriotisme yang tidak kenal menyerah. Walaupun dalam keadaan sakit dan harus ditandu namun sebagai Panglima Besar Beliau menanamkan semangat juang yang tinggi dan secara lngsung memimpin perang gerilya. Dengan adanya perlawanan yang tidak kenal menyerah itu akhirnya membuat Belanda meninggalkan Indonesia.
     Lahir pada tanggal 24 Januari 1916 di Kabupaten Purbalingga dan wafat tangggal 29 Januari 1950 di gedung ini. Dan semenjak tahun 1976 di alihfungsikan sebagai Museum Jendral Sudirman.
Bangunan-bangnan yang berdiri tahun 1930 tersebut, terdiri dari rumah utama dan uang-ruang penunjang (servis area) yang berada di belakang.
     Bangunan belakang utama terdapat deretan kamar-kamar penunjang seperti: Kamar Soepardjo Ajudan Jendral Sudirman, Kamar Mandi, dan dapur. 

BIOGRAFI JENDRAL SUDIRMAN :
Nama: R.Sudirman
Lahir : Senin, 24 Januari 1916 atau dalam penanggalan jawa 18 maulud  1846 di wuku, galungan, desa bantarbarang, kec.rembang, kab.purbalingga.
Keuarga: Istrinya, Siti Alfiah, lahir: senin 28 Desember 1920 , putri Mr. Sastroatmojo dari Cilacap. Mereka mempunyai 3 anak laki-laki an 4 anak perempuan .
Pendidikan: HIS MULO Wiworo tomo di Cilacap. Aktif dalam kepanduan bangsa Indonesia/ KBI dan Hizbul Wathon.
Meninggal: Miinggu, 29 Januari 1950 pukul 18.30 WIB dalam usia 34 tahun.
Dimakamkan di Pemakaman Militer Semaki Yogyakarta.
Bintang Jasa Kehormatan/ Kenegaraan:
-Bintang RI Adipurna
-Bintang RI Adiprana
-Bintang Mahaputra Dipurna
-Bintang Sakti
-Bintang gerilya, Bintang-bintang dan empat Lencana-lencana. Eka paksi tingkat I. Sebagai penghormatan ats ajsa-jasanya maka pada waktu wafat , pangkatnya di naikkan menjadi Jenderal.

06/02/12

Mengenal Lebih Dekat Sosok Edy Suripno

Dalam kancah dunia politik di Kota Tegal, nama dan sosok H Edy Suripno SH tidak asing lagi, bahkan politikus muda  kelahiran 16 Maret 1978 ini sangatlah diperhitungkan oleh rival-rivalpolitiknya. Karena disamping jenius dan dikenal ahli strategi, julukan 'Pejabat Vokal' juga melekat pada diri Sektertaris DPC PDI-P yang juga menjabat  Ketua DPRD Kota Tegali. Ia terkenal tegas dan selalu berpihak pada rakyat,  setiap kali mengambil kebijakan.

Tidak hanya itu, wakil rakyat lulusan MA Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, yang mengambil S1-nya di Fakultas Hukum UPS Tegal ini, juga memiliki jiwa dermawan yang cukup tinggi. Ia tidak pernah menampik permohonan bantuan, baik moril maupun materiil, yang diajukan oleh masyarakat, meskipun masyarakat itu berasal dari luar partainya.

 “Selagi saya masih bisa membantu insya allah saya akan memberikan bantuan, karena bagi saya anatar habluminallah dengan habluminnannas harus seiring, dan hukumnya wajib untuk dilaksanakan,” tutur putra pasangan H Mustofa dan almarhum Hj Badriyah, yang mempersunting Ratna SPt,  ketika beberapa waktu lalu ditemui di ruang kerjanya.

Edy yang setiap harinya disibukkan oleh urusan partai dan lembaga yang dipimpinnya, ternyata bukan saja seorang pejabat yang loyal kepada kepentingan partai dan masyarakat, namun ia juga seorang suami dan ayah dari dua orang anak yang sangat mencintai, menyayangi, dan begitu memperhatikan keluarganya. “Bagi saya keluarga sangatlah penting, karena tanpa support dan doa dari mereka tidak mungkin saya bisa seperti sekarang ini,” kata lelaki yang memiliki segudang pengalaman dibidang organisasi.

Dimata IstriSementara itu, dimata sang istri, Edy bukan hanya seorang kepala rumah tangga yang berhasil memenuhi kewajibannya dalam bentuk materi. Tapi ia juga teman dan sahabat setia bagi istri dan anak-anaknya, yang juga selalu berusaha meluangkan waktu untuk keluarga tercinta. ”Sesibuk apapun bapak selalu meluangkan waktu untuk kami, entah itu mengajari anak-anak, mengajak jalan-jalan, atau mengantarkan saya ke mall untuk membeli sesuatu,” tutur Ratna, ibu dari Diana Zahrani (7), dan Muhammad Ibrohim Arotiqi (3), saat ditemui MP, baru-baru ini, di kediamannya.

Pada kesempatan itu Ratna juga menyampaikan, meski sang suami memiliki profil garang, tapi sebenarnya dia berhati lembut dan tipe lelaki kocak yang mempunyai segudang cerita banyolan.”Kalau bapak cuma casingnya aja yang seram, padahal hati dan perasaannya baik dan lembut. Beliau jarang sekali marah, malah cenderung suka guyon (bercanda, red) dan seneng ngarang hal-hal lucu yang bikin orang lain tertawa,” katanya.
Ia menambahkan, dalam hal menghadapi segala permasalahan yang timbul sang suami juga selalu menghadapinya dengan kapala dingin dan santai. Sehingga, terkadang, membuat sejumlah pihak merasa jengkel dengan sendirinya. “Setiap ada masalah apa saja bapak selalu menghadapinya dengan santai, kadang malah orang lain yang ikut jengkel,” pungkasnya. yan

Hj Rosalina Ikmal Jaya, Sosok Perempuan Kreatif dan Dekat Dengan Masyarakat



Tidak ada yang berubah pada diri Hj Rosalina Ikmal Jaya, istri Walikota Tegal, yang sudah sejak 3 tahun lalu bermukim di gedung Selatan (rumah dinas walikota, red), dan mendapat gelar 'Lady First' Kota Tegal. Karena meski perempuan cantik ini telah memperoleh kemenangan dan keberhasilan, namun ia tetap saja ramah, rendah hati, dan dekat dengan wong cilik. Bahkan saat ini Rosalina tetap membuka diri dan banyak meluangkan waktu untuk seluruh lapisan masyarakat, seperti halnya saat ia masih ke luar masuk posyandu di kampung-kampung, untuk membagikan susu dan vitamin dalam rangka mengkampanyekan suaminya, pada masa-masa menjelang Pilkada Kota Tegal.

    Kala itu Rosalina bukan sedang melaksanakan nafsu pribadinya untuk merintis kekuasaan, melainkan momentum zaman yang menugasinya untuk tampil, guna mengetahui lebih dalam kondisi dan keinginan masyarakat Kota Tegal. Dan meski pada diri perempuan kelahiran Bangka Belitung, 30 Oktober 1972, ini tidak mengalir darah Ki Gede Sebayu ataupun bangsawan tanah jawa yang lainnya, namun keprihatinannya kepada masyarakat Kota Bahari ini telah membangkitkan nalurinya untuk turut berjuang bersama sang suami, dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Tegal, tempat dimana sang suami dilahirkan dan dibesarkan.

Kepedulian dan kedekatannya dengan masyarakatpun saat ini sudah bisa ia buktikan dengan sejumlah keberhasilannya sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kota Tegal yang telah banyak menyalurkan berbagai macam bentuk bantuan, memberikan pelatihan dan membuka lapangan kerja, serta menjadi kepanjangan tangan perempuan Kota Tegal.

“Bagi kami jabatan bukanlah anugrah, melainkan amanat. Karena itu, sebagai istri walikota tentunya saya harus bisa turut berperan serta dalam upaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat kami. Apalagi selama ini saya begitu dekat dengan ibu-ibu dan banyak menampung keluh kesah mereka, sehingga saya cukup tahu kondisi dan keinginan masyarakat,” kata ibunda Sherliya, Muhammad Reza, dan Sakinah Mazidah, yang banyak belajar mengenal masyarakat arus bawah melalui posyandu, PKK, dan pengajian ibu-ibu, ketika beberapa waktu lalui ditemui MP, di rumah dinas Walkot.
Sebagai istri walikota, Rosalina bukan saja sebagi ibu bagi ketiga anaknya, melainkan juga ibu bagi seluruh masyarakatnya.

Untuk itu jauh hari sebelumnya ia sudah menyiapkan sejumlah program bagi perempuan di Kota Tegal, untuk meningkatkan taraf hidup dan menerbitkan harapan baru. Bahkan ia juga tidak ingin perempuan hanya sebagai konco wingking saja. “Saya harus bisa memberikan solusi bagaimana caranya perempuan di Kota Tegal mendapatkan tambahan penghasilan, tanpa harus berpangku tangan kepada suami. Saya berharap kedepan mereka bisa lebih maju dan tidak minder dalam mengambil langkah, tidak hanya terpaku di rumah dan mengenakan daster, sementara kondisi ekonomi mereka morat marit,” tutur perempuan yang dikenal mirip dengan Manohara, mantan istri Putra Mahkota Kesultanan Kelantan Malaysia.

Bila kita mengenal lebih dekat dengan Rosalina, maka kita akan lebih kreatif dan konstruktif, karena perempuan kritis ini tak ubahnya bak DR Edward de Bono, ahli mengajar berfikir kreatif. Sebab, ibarat kata ia tidak akan memberikan kita umpan untuk memancing, melainkan memberikan kita alat pancing. Karena, menurutnya, apapun problem yang menimpa dalam kehidupan setiap umat manusia, itu selalu disertai kesanggupan manusia itu sendiri untuk mengatasinya, selagi manusia itu tetap tawakal dan kreatif.
“Masyarakat tidak hanya butuh modal, tapi juga butuh arahan, bimbingan, serta dituntut untuk kreatif. Untuk itu kita harus bisa mengarahkan mereka bagaimana caranya agar dengan modal tersebut mereka tidak gagal dan sia-sia,” urai perempuan yang juga bergelut di dunia bisnis.

Saat disinggung seputar masalah kendala yang dihadapi selama ia mendampingi sang suami sebagai walikota, Rosalina menyampaikan sejauh ini tidak ada kendala yang cukup berarti, karena semuanya ia jalani seperti air mengalir. “Karena saya menghadapi segala sesuatu dengan bijak, maka alhamdulillah sejauh ini tidak ada kendala, Dan saya juga menjalani hidup ini seperti air mengalir, perlahan tapi pasti menuju muara, asalkan jangan terbawa arus,” ujar perempuan enerjik yang juga memiliki hoby Trabas, sambil tertawa renyah.

Sedangkan ketika ditanya keberhasilan apa saja yang telah diraihnya selama ia menjabat sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kota Tegal, Rosalina menuturkan berkat adanya kebersamaan dan kerja sama yang  baik,  disamping pernah meraih kajuaraan dalam lomba PKK ditingkat Propinsi Jawa Tengah, pihaknya juga telah berhasil menjadi pemenang dalam lomba posyandu  pada tingkat nasional. “Alhamdulillah, selama saya menjabat sebagai Ketua Tim PKK sejumlah kejuaraan dalam lomba tingkat propinsi maupun tingkat nasional telah berhasil kami raih. Dan pada tanggal 19 Desember 2011 menerima penghargaan sebagai pendamping terbaik walikota,” pungkasnya.              

Rosalina Dimata Masyarakat Kota Tegal        Cantik, ramah, supel, kreatif, dan suka bicara blak-blakan adalah ciri Hj Rosalina Amd, istri Walikota Tegal H Ikmal Jaya SE AK. Kehadirannya ditengah masyarakatpun bukan hanya sebagai ibu dari seluruh masyarakat Kota Tegal, melainkan juga sebagi teman, sahabat, dan tempat curhat (curahan hati)nya para ibu dari berbagai kalangan. Maka tak ayal bila perempuan ini dikenal dekat dengan wong cilik, dan pandai menciptakan suasana damai, ceria dan menyejukkan, dalam berbagai acara. Seperti apa yang disampaikan oleh Chandra (43), warga Kelurahan Debong Kidul, Kecamatan Tegal Selatan Kota Tegal.

    Menurutnya, Rosalina bukanlah tipe seorang ibu pejabat yang ambisius dan penuh dengan aturan, keberhasilannya yang telah meraih segala hal tidak pernah membuatnya sombong dan takabur. Bahkan ia tak ubahnya bagai tanaman padi di sawah, semakin berisi semakin menunduk.”Dimata saya, secara pribadi, tidak ada yang berubah pada diri ibu Rosalina, beliau tetap ramah, welcome dengan siapapun, dan tetap menghargai serta menghormati orang lain. Malah semenjak beliau mendampingi pak Ikmal menjadi walikota nampak lebih matang dan lebih bijak dalam menerima masukan, beliau juga bukan tipe perempuan gila hormat,” paparnya, ketika disambangi di kediamannya.

    Hal senada diungkapkan Widyanti (45), warga Kelurahan Slerok, Kecamatan Tegal Timur Kota Tegal. Dia mengatakan, semenjak Rosalina menjabat sebagai Ketua TimPenggerak PKK dan istri Walikota Tegal, ia lebih merasakan adanya peluang dan kemajuan kaum perempuan disegala bidang. “Satu contoh dengan profesi saya yang berkaitan dengan dunia marketing. Waktu saya menawarkan berbagai macam snack yang saya pasarkan, beliau langsung menarima tawaran saya, bahkan turut membantu mencarikan saya konsumen, meskipun hanya melalui telpon,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

    Tidak hanya itu, masih menurut penuturannya, atas saran dan dorongan Rosalina saat ini ia juga sudah berhasil menjadi seorang pengusaha catering kecil-kecilan.”Ibu Rosalina yang memotifasi saya untuk merintis usaha sendiri, dan setelah saran itu saya coba alhamdulillah sekarang ini saya bisa merasakan hasilnya. Tidak perlu bekerja di luar rumah hingga larut malam untuk mencari konsumen, tapi malah konsumen yang mencari saya,” tambahnya.  

    Sementara itu, Ayu (22), seorang mahasiswi sebuah fakultas di UPS Tegal, ketika diminta pendapat seputar Rosalina Ikmal Jaya menuturkan, melihat Rosalina di kampus dirnya tidak seperti melihat ibu pejabat, melainkan seperti layaknya mahasiswi lain. Pasalnya, yang bersangkutan tidak pernah nampak menyombongkan diri sebagai istri walikota atau pejabat lain yang memiliki banyak pengaruh besar.

    ”Sosok Rosalina keren, cantik, menarik, ramah, dan tidak sombong. Bahkan sebelumnya saya belum pernah menemukan ibu pejabat seperti itu, apalagi sampai berani naik motor sendirian di jalan raya. Yang jelas saya bangga punya ibu walikota meching dan pandai seperti beliau,” tuturnya, saat ditemui MP, di pelataran kampusnya. yan

Archive

free counters


Dalam menjalankan tugasnya semua wartawan Muara Pos dibekali Surat Tuas dan ID Card serta namanya tercantum dalam Box Redaksi

Kisah Nyata

Sosok