Headline

Total Pengunjung

Advertorial

Berita Terkini

16/09/13

Teguh Herdi Sancoyo, SPd MM Melangkah Pasti Meraih Prestasi



Sosok yang satu ini memang pas dan tepat menjadi seorang pendidik. Sabar, enerjik, ramah dan tulus dalam pengabdian adalah profil kesehariannya. Sebagai seorang pendidik yang kini di percaya mengemban amanah untuk  menjabat Kepala Bagian Pemuda dan Olah Raga (Kabid POR) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dindikpora) Kabupaten Tegal terbilang luar biasa dalam prestasi. Dalam bekerja ia tidak setengah-setengah. Dengan kedudukannya yang sekarang  dia mengaku memperoleh kesempatan untuk mengaktualisasikan ide-idenya dan bertekad untuk meraih prestasi terbaik. Ia pun layak dijadikan inspirasi untuk berbuat lebih banyak bagi pendidikan.
“Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang, melakukan proses pendidikan dengan benar-benar, sungguh-sungguh dan selalu berorientasi masa depan. Semua pelaku pendidikan harus mampu memegang amanah mencerdaskan kehidupan bangsa. Agar kelak bangsa ini lebih bermartabat, jaya dan berdaya saing,” ujar Teguh Herdi Sancoyo, SPd MM.
Dalam tubunya mengalir jiwa seni yang begitu kental dengan bermacam bidang seni digeluti, seni suara, seni tari, seni drama, seni sastra maupun seni berorganisasi mampu diekspresikan dengan baik dan penuh penjiwaan. Bakatnya yang luar biasa membuat banyak orang mengenal sosoknya sebagai orang yang menyukai tantangan, tanggung jawab dan multitalenta.
Di dunia tarik suara, ia emiliki suara sopran yang merdu menggema mirip Broery Marantika, lagu ciptaanya juga pernah masuk dapur rekaman. Sebelum menjadi Ketua I Dewan Kesenian Kabupaten Tegal, ia juga peduli seni budaya dengan ikut mengangkat dan menggerakkan kesenian di Kabupaten Tegal. Salah satunya di wilayah Jatinegara. Tidak ketinggalan aktif juga di PAPPRI (Persatuan Artis Pencipta Penata Musik dan Rekaman Indonesia)
Seperempat Abad Mengabdi Di Jatinegara
Sebagai seorang PNS ia sudah seperempat abad mengabdi di Jatinegara. Ia mampu membuktikan bahwa Kecamatan Jatinegara yang dulu identik dengan kecamatan buangan, terisolir dan sebagai tempat karantina orang-orang yang bermasalah, sekarang menjadi tempat orang-orang yang berprestasi. Imej buruk itu perlahan sirna berkat kerjasamanya dengan muspika dan tokoh masyarakat setempat.
“Kami ingin membuktikan bahwa kami mampu beradaptasi dengan lingkungan geografis yang kurang baik jika dibandingkan daerah lain, dan ternyata kami bisa. Seperempat abad kami mampu beradapatasi dengan kondisi seperti ini,” kata Teguh, kala itu.
Mengawali pengabdiannya di SDN Kedungwungu 1, 25 tahun di Dinas P & K dan tahun 2000 masuk menjadi Penilik Pembinaan generasi muda. Aktif di beberapa organisasi kepemudaan, diantaranya, sebagai Andalan Cabang di Pramuka bidang pendidikan, tergabung dalam Komite Pemberdayaan Ekonomi Koperasi KNPI, sebagai Pembina Karang Taruna Kecamatan di Departemen Seni dan Budaya Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Tegal, Ketua Persekat ranting Jatinegara dan lain-lain.
Secara dinas dan pribadi sangat peduli dengan semua permasalahan yang ada, karena memang itulah tugas, pokok dan fungsi (Tupoksi) sebagai Penilik PNS. Ia waktu itu bersama dengan Kepala UPTD Dinas P & K Kecamatan Jatinegara, Heri Sucianto, SH beserta jajarannya mampu menghimpun, merekrut yang tidak mampu bersekolah karena berbagai faktor masalah ekonomi melalui kejar paket A-B-C. Dan yang paling menjadi konsentrasinya masa itu adalah Keaksaan Fungsional, yaitu proses percepatan tuntas buta aksara.
Dia mengisahkan dulu angka buta aksara di Kabupaten Tegal pada tahun 2006 tergolong tinggi, mencapai 20 ribu jiwa yang 2.697 jiwa diantaranya adalah warga Kecamatan Jatinegara. Kenyataan itu menempatkan Kabupaten Tegal kala itu pada rangking 3 besar di Jateng, dan 12 besar untuk tingkat nasional sebagai penyandang predikat buta aksara. Walaupun memprihatinkan, namun semangat menuntaskan buta aksara terus diwujudkan hingga terbitnya ‘Sukma’ yakni, surat bukti bahwa warga belajar melek aksara/ bukan buta aksara lagi.
Pihaknya dalam bekerja menggunakan rasio, semua di otak atik dengan menggunakan matematika, sehingga permasalahan yang muncul di lapangan bisa diperhitungkan. “Percepatan buta aksara sendiri ada 3 tingkatan yaitu, awal pembelajaran yang dinamakan pemberantasan, setelah lulus pemberantasan naik ke pembinaan, setelah itu baru naik ke pelestarian. Dan di pembinaan ada penambahan materi life skill, atau materi ketrampilan hidup. Kegiatan tersebut mendapat respon sangat bagus dari masyarakat setempat, mengingat hampir setiap desa di kecamatan ini telah memiliki kelompok-kelompok belajar,” jelasnya.
Menuju Gedung SKPD Termegah
Setelah sekian lama berkutat di Jatinegara, karir pun berlanjut ke wilayah Kedung Banteng dan Pangkah. Pengabdian, totalitasnya dan prestasi yang diraihnya mendudukan seorang Teguh Herdi sebagai Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Kedung Banteng, hingga bergeser ke wilayah Pangkah dengan jabatan yang sama. Di dua wilayah tersebut sekalilagi ia mampu berbaur dengan masyarakat setempat. Maklum dia yang rendah hati memang dikenal supel dan pandai bergaul.
Baginya pengalaman hidup yang penuh liku membuatnya semakin dewasa dalam bersikap. Hingga susah tak berarti harus menjadi tangis yang tersedu, sementara senang pun juga tak diartikan dengan tawa terbahak. Sampai akhirnya pada satu ketika, suami dari Ratna Dumila dan ayah dari Erlinda ini dipercaya mengemban tugas sebagai Kabid POR Dindikpora dengan menempati gedung SKPD termegah di Kabupaten Tegal. “Memang semua itu membutuhkan waktu yang lama. Tapi inilah sebuah proses, karena tiada sesuatu yang instan jika ingin menghasilkan sesuatu yang berkualitas. Karena sukses adalah perjalanan, perjalanan menuju ke tahap berikutnya,”ujarnya.
Peduli Seni Budaya
Memelihara dan menjaga waktu bukan berarti harus mengisi semua dengan pekerjaan dan aktivitas, tidak semua waktu dalam hidup ini adalah kerja keras yang terus menerus tiada henti dan tiada waktu istirahat, dan bahkan harus bermuka tegang, tidak ada ketawa ataupun muka ceria, namun disini bermaksud bahwa waktu luang dan istirahat jangan sampai merampas dan mengalahkan waktu untuk bekerja, beramal dan berkarya. Dalam kondisi bagaimanapun, dia senantiasa memberikan yang terbaik dalam hidup ini, senantiasa menyalakan semangat dan membuktikan pada semesta.
Teguh yang dulu di Jatinegara punya andil dalam memajukan musik, terbukti saat itu adanya 5 kelompok Orkes Malayu, 3 kelompok Organ Tunggal, 1 kelompok Karawitan dan Ketoprak serta 50 grup Terbang Kencer, termasuk menggelar even lomba vokal dangdut dan parade band. Dibidang budaya khususnya peninggalan sejarah dan pelestariannya, dia termasuk orang yang peduli, hal itu dibuktikan dengan keberadaan Seni Sintren di Desa Tamansari yang merupakan satu hal yang spesifik dan istimewa, serta Situs Purbakala dan Cagar Budaya berupa Lumbung Padi yang masih utuh dan asli.
Dia yang gemar naik motor traill ini selalu terobsesi untuk mewujudkan impiannya selama ini, yakni menghidupkan kembali kesenian asli Tegal yang nyaris punah seperti, Seni Sintren Desa Tamansari, Seni Lais Desa Gantungan dan Balo-balo Desa Lebakwangi Jatinegara. Ia pun tak canggung dan sering merasa rindu dengan masyarakat Jatinegara. Ia bersama rombongan guru seni budaya dan pecinta seni lainnya sering menyambangi daerah yang ikut membesarkan namanya.
Rupanya memang benar, dia tidak hanya seorang pendidik yang tekun, namun juga seorang seniman. Tidak tanggung-tanggung lagu ciptaanya bahkan pernah masuk dapur rekaman di tahun 1983. Tidaklah mengherankan bila dia yang didapuk sebagai Ketua I Dewan Kesenian Kabupaten Tegal sampai kini masih tetap eksis di dunia musik dan cipta lagu.
Teguh menceritakan, waktu itu di tahun 80-an, dia dan temannya seniman kampung sedang mengobarkan potensi seni. Berkibarnya Secha Rossa Band milik PG Pangkah yang sempat rekaman di Remaco telah melecut semangat anak-anak kampung untuk meneruskan jejak Secha Rossa Band. Hingga akhirnya terbentuklah band kampung yang digawangi Vosca (ex gitaris Secha Rossa) dan Teguh sebagai drummer. Sayang jejak sukses Secha Rossa sulit untuk di kejar. Alhasil, masing-masing termasuk dirinya beralih menjadi pencipta lagu sesuai apa yang sedang dialami waktu itu, yakni masa-masa kasmaran.
Satu ketika temen dari Bumijawa yang kebetulan kuliah di Jakarta berambisi menjadi vokalis, berhasil lolos best vocal di CHG Record milik Charles Hutagalung pada Oktober 1983. Temen tersebut adalah MG Marheinismanto alias Oni yang kini menjadi wakil rakyat di DPRD KabupatenTegal. Oni lantas masuk dapur rekaman dan harus membawakan lagu yang belum pernah di rekam sebelumnya. Maka di bawalah oleh Oni sebuah lagu yang berjudul ‘Patah Hati’ ciptaan Teguh Herdi.
“Lirik lagu tersebut album perdana produksi CHG Record dengan label ‘Anak Jalanan’. Posisi Oni pada ZA Nomor 3 dengan pengiring CHG Band, Aranger music Mus Mujiono. Launching lagu pada Maret 1984 dan sempat meledak di Jakarta. Lagu tersebut juga sempat masuk best sealler (penjualan terbaik) hanya sayang kurang promosi di daerah,” ungkapnya.
Dia yang aktif di PAPPRI (Persatuan Artis Pencipta Penata Musik dan Rekaman Indonsia) saat ini masih menyimpan 8 lagu ciptaannya, baik yang tertulis maupun di memori benaknya. Diantaranya, Ibu, Balada Penebang Tebu, Benci, Kau Pura-Pura, Keheningan, Potretmu,, Patah Hati 2 dan Guru Di Kaki Gunung. Lagu Balada Penebang Tebu di ubahnya kedalam bahasa Tegalan dengan judul ‘Damar Kanginan’
Beberapa penghargaan ia raih, salah satunya adalah sebagai Penggiat Seni Budaya Tegal pada acara Rakyat Tegal Moci Bareng dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Tegal ke 411 dan lain sebagainya. Dia juga turut hadir dalam Launching Lagu Tegalan di Pendopo Balaikota Tegal.(didik yuliyanto)  

14/09/13

Paguyuban Tamansari Eksis Lestarikan Ronggeng

Teguh Herdi Sancoyo ( No.2 Dari Kiri )   
SLAWI(MP)- Malam itu cuaca cukup cerah dam bersahabat. Suasana desa yang biasanya nampak sepi, berubah menjadi ramai. Masyarakat yang setiap malamnya banyak menghabiskan waktu santainya didalam rumah, berbondong-bondong ngeluruk balai desa. Rasa penasaran dari beberapa warga setempat terjawab sudah. Masyarakat desa senang dengan adanya pertunjukan seni yang menghibur, dan juga kedatangan tamu pecinta seni.
Ya, rombongan Tim Pecinta Seni Tradisional Kerakyatan yang dipandegani Kabid Pemuda dan Olah Raga (POR) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dindikpora) Kabupaten Tegal, Teguh Herdi Sancoyo, SPd MM bertandang ke Balai Desa Tamansari, Kecamatan Jatinegara. Mereka diantaranya, Mujiarti SPd guru Seni Budaya SMP Negeri 1 Adiwerna, Junaidi SPd guru Seni Budaya  SMA Negeri 3 Slawi dan Endri Muris Jatmiko SPd guru SMP Negeri 1 Slawi. Kedatangan rombongan untuk menyaksikan pagelaran seni karakyatan ‘Ronggeng’ yang dimainkan oleh Paguyuban Sukma Sari pimpinan Suwandi.
Jumat malam itu, penari nan gemulai gerakannya menarik semua mata, membuat penyawer hanyut dalam tarian. Si Manis dan Yati Sang Rongeng cantik itupun terus menari, menghibur dan larut dalam alunan tembang-tembang Jawa dan Tegalan oleh lantunan Sinden cantik, Supriyati. Ketrampilan Nayogo dalam memainkan gamelan menambah pertunjukan seni kerakyatan malam itu menjadi semarak dan rancak. Ronggeng Tamansari memang layak diapresiasi.
“Sebetulnya Sukma Sari adalah pemberian nama untuk grup Sintren, namun karena Sintren hanya dimainkan di musim kemarau yang bertujuan untuk meminta hujan, maka saat Sintren tidak dimainkan, Ronggeng-lah sebagai pengisi kegiatan Paguyuban Sukma Sari agar tetap eksis didunia seni kerakyatan,” terang Roso, selaku Pembina.
Dia mengungkapkan, ada kejadian aneh yang tertangkap saat pegelaran Ronggeng berlangsung. Waktu itu salah satu pengunjung meminta para Nayogo untuk memainkan lagu ‘Eling-eling’ Intro gamelan baru dimanikan, sontak Yati tidak sadarkan diri alias kesurupan. Menurut Karnadi selaku pawang, Yati adalah seorang penari Sintren, hatinya sudah ada ikatan dengan hal-hal yang berbau Sintren, entah itu musik maupun lagu yang biasa dimainkan dalam pertunjukan Sintren.
Sementara dalam kesempaatn itu, Teguh Herdi mengatakan, Ronggeng Tamansari adalah salah satu keunikan dari seni kerakyatan yang harus tetap dilestarikan sebagai budaya leluhur nenek moyang bangsa Indonesia. Pihaknya merasa kagum dengan masyarakat  Desa Tamansari yang dengan antusias baik tua maupun muda menyaksikan pementasan Ronggeng sampai selesai.
“Inilah yang namanya berkesenian, ada interaksi antara pelaku dengan penonton. Pelaku senang menyajikan, penonton senang menikmati, maka kesenian akan berjalan dan lestari,” kata Teguh yang publis di Jatinegara.
Dia menambahkan, di Kecamatan Jatinegara khususnya di Desa Tamansari ternyata tidak hanya Ronggeng yang dilestarikan. Karena disamping Sintren, Lais (sintren Laki-laki) ada juga Jaran Ebeg (Kuda Lumping) yang masih sering dipertunjukan.(didik yuliyanto)

11/09/13

Lomba Mapsi ke-16 di Kecamatan Dukuhturi Diadakan

Slawi (MP)  Guna dapat meningkatkan  rasa keimanan dan ketakwaan pada diri siswa, diperlukan suatu cara agar siswa dapat lebih terarah. Salah satunya dengan adanya kegiatan lomba Mapsi di tingkat kecamatan Dukuhturi. Lomba yang diadakan di SDN Sidapurna 02 ini diikuti 38 SD Negeri dan swasta.

                                   Selain Bidang Keagamaan,  Lomba Wira Usaha Juga Diikutkan   
Hal ini seperti dikemukakan Ketua Panitia, Sihono, SAg, menyampaikan adanya lomba Mapsi di tingkatkan kecamatan ini bertujuan untuk memperdalam materi keislaman pada diri siswa disamping menambah rasa Iman dan Takwa. Dan untuk lomba - lomba yang didakan diantaranya , Lomba Khitobah, Bercerita Islami, Lomba mapel PAI, LCC, lomba melukis atau seni Kaligrafi dan menulis ayat - ayat  Alqur'an, lomba TIK,  serta lomba lainnya. Sedang untuk lomba Rebana rencanaya akan diadakan besok Kamis sekalian pengumuman para Juaranya.

Dan selain lomba dalam bidang Islami, juga diadakan lomba kewirausahaan, disini siswa dilatih untuk bisa berwira usaha nantinya. Untuk lomba yang dikuti yaitu, lomba membuat makanan atau jajan, salah satunya  dengan bahan dasar pisang, dan minuman. Selain itu juga ada kerajianan tangan. Diharapkan dengan adanya lomba Mapsi yang ke - 16 di Kecamatan Dukuhturi ini, dapat mencetak generasi yang Islami, Madani, Berimtak serta memiliki keahlian,'' harap Sihono saat ditemui di sela - sela acara. (dik/safii)                   

10/09/13

SDN Penarukan 02 Tingkatkan Mutu Pendidikan


Slawi  (MP) Guna dapat mencetak lulusan yang lebih berkualitas diperlukan berbagai upaya untuk mewujudkannya. Selain berupaya memenuhi beberapa fasilitas atau sarana yang dibutuhkan oleh siswa, sekolah juga berupaya menciptakan pembelajaran yang efektif dan efesien agar siswa lebih berkosentarasi dalam belajarnya. Salah satunya dengan menerapkan pembelajaran dengan menggunakan LCD Proyektor.

 
Seperti disampaikan Kepala SDN Penarukan 02, Nurlaela S.Pd, saat ditemui MP mengatakan, bahwa setiap sekolah sangat menginginkan adanya suatu kemajuan. Untuk itu dengan didukung para guru yang ada dan menjalin kerja sama yang baik dengan wali murid, sekolah akan berupaya mewujudkan pendidikan yang lebih berkualitas. 

Selain meningkatkan mutu pendidikan dalam bidang akademik, upaya lain yaitu dengan menggiatkan kegiatan tambahan ekstra kurikuler, Pramuka, Olahraga, Seni Drum band, Gamelan, Seni tari dan kegiatan lainnya. Dan sebagai program lain yang akan di terapkan di sekolah, dengan adanya animo masyarakat yang menyekolahkan anak didiknya di SDN Penarukan 02, rencananya sekolah akan melengkapinya dengan gedung Perpustakaan. yang tujuannya dengan adanya perpustakaan, sekolah dengan dibantu para guru akan menerapkan sosialisasi kegiatan gemar membaca. Sebab dengan adanya siswa gemar membaca, akan dapat menambah wawasan pengetahuan , ''ungkap Kepala Sekolah.


Lebih lajut dikatakan, bahwa kedisiplinan merupakan bagian dari kunci keberhasilan dan hal ini akan di terapkan di kalangan guru dan para siswa. Tidak hanya disiplin pada saat belajar di sekolah, pada saat di rumah sebagai seorang pelajar atau siswa tugasnya adalah belajar, jadi jadikan bahwa belajar adalah suatu kebutuhan yang harus dilakukan seorang siswa. Dan dengan adanya kegemaran membaca dan belajar yang diiringi dengan sikap kedisiplinan, seorang siswa akan dengan mudah dapat meraih prestasi,''terang Nurlaela belum lama ini. (Didik) 

09/09/13

SD Putra Wacana Raih Juara 2 Kejurda Renang Antar Klub Taruna Jateng

Tegal (MP) - Dari tahun ketahun kiprah SD Putra Wacana terus menglami peningkatan yang signifikan, hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa penghargaan yang telah diraih sekolah melalui para siswanya, seperti pada pencapaian nilai tertinggi hasil UN yang telah diraih Kristian Bayu Dwi Prihantoro dengan hasil nilai yang dicapai untuk Mapel Matematika 9,50, Bahasa Indoneia 9.20 dan IPA 8,50 dengan jumlah nilai 27,20.

Dengan adanya hasil inilah, sekolah kedepan akan berupaya meningkatakan mutu sekolah, baik dalam bidang akademik maupun non akademik.
                                                Janos Saat Didampingi Kepala Sekolah

 Seperti dikatakan Kepala Sekolah, Yusuf  Sudardi, SPd, saat ditemui diruang kerjanya, selain berupaya meningkatkan mutu, sekolah juga akan tetap mengarah kepada pembentukan karakter agar lebih itensif. Dan sebagai langkah upaya yang dilakukan sekolah guna memperat hubungan dengan wali murid yaitu dengan menciptakan komunikasi dan jalinan kerjasama yang baik. Dengan adanya jalinan kerjasama yang baik, diharapkan para orang tua juga turut memperhatikan perkembangan anak didiknya ketika dirumah,'' terang Kepala Sekolah.

Dalam kegiatan belajarnya, selain telah dilengkapi dengan ruang belajar yang aman dan nyaman, sekolah juga telah dilengkapi dengan alat peraga, TIK dan CD Pembelajaran, IPA, IPS Matematika. Dengan adanya alat ini diharapkan siswa dapat lebih berkosentrasi.

Satu lagi sebuah kejuaaran Olahraga Renang telah dapat ditorehan oleh siswa kelas 3, Janos. Putra pasangan dari Sebastianus Irwan Haryanto dan Fransisca yuanita telah mampu meraih Juara 1 Renang tingkat kota Tegal dan Juara 2 Kejurda Renang antar klub Taruna Jateng yang diadakan di Semarang pada 6-7 September. Janos Atlet Renang yang yang bercita - cita menjadi Profesor dan arsitek serta hobby membaca ini, telah berupaya semaksimal mungkin membuat nama baik sekolah, dan kedepan akan berupaya  lebih baik lagi,  tutur Janos.  
Dan dengan adanya sekolah yang telah meraih Juara 2 Renang di tingkat Propinsi yang diwakili Janos, atas nama sekolah mengucapkan terima kasih serta  merasa cukup bangga dan kedepan sekolah akan berupaya meningkatkan prestasi - prestasi lainnya agar lebih baik lagi,'' harap Yusuf.   (Seno aji)                  

BKB Destinasi Wisata Baru Semarang


SEMARANG(MP)- Banjir Kanal Barat (BKB) yang telah dinormalisasi sepanjang sekitar 9,2 kilometer sejak tahun 2009 lalu dengan menelan dana mencapai Rp 288 miliar, awalnya adalah untuk menyelamatkan masyarakat dari ancaman banjir serta melestarikan lingkungan sekitar sungai. BKB juga merupakan percontohan bagi-kota-kota lain, khususnya dalam penangganan masalah banjir. Namun kini keberadaannya bisa dimanfaatkan oleh seluruh elemen masyarakat  di Kota Semarang untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif. Tidak hanya itu BKB telah menjadi destinasi wisata baru di Kota Semarang.
Salah satunya adalah BKB Festival oleh Kompas Gramedia yag merayakan ulang tahunnya ke-50 tahun. Festival yang digelar pada Sabtu-Minggu (7-8) September menyajikan beragam tontonan yang menghibur dan dimeriahkan pula berbagai lomba dengan hadiah total Rp 33 juta untuk seluruh lapisan masyarakat. Disamping itu juga menampilkan, stan makanan khas Semarang dan stan industri kecil serta bursa kerja. Dalam kesempatan itu dilakukan, penyerahan bantuan dari Kompas Gramedia berupa buku bacaan kepada masyarakat setempat.
Beberapa rangkain kegiatan dari Banjir Kanal Barat Festival 2013 diantaranya, Aneka Bazar UMKM yang menampilkan Kuliner Semarangan dan Distro, Show dan Entertainment menampilkan Parade Musik Muda, Parade Budaya, Pesta Kembang Api dan Laser. Lomba, antara lain, Drum Band tingkat SD, Fotografi Handphone dan SLR, Lentera/Teng-teng tingkat SMP/SMA, Rakit Hias, Menulis Artikel tingkat Mahasiswa. Lomba Ceria berupa mewarnai layang-layang, Puzzle antar keluarga dan menerbangkan pesawat kertas. Tidak ketinggalan, Fun Aerobic bersama Plt Walikota Semarang dan Guest Star menampilkan Didi Kempot dan Seventeen.
Menurut Heru Budi Kuncara selaku seksi acara BKB Festival 2013, Kompas Gramedia sengaja mengambil lokasi Banjir Kanal Barat bertujuan untuk lebih mengenalkan secara luas sebagai kawasan wisata di Kota Semarang dan untuk lebih menghidupkan suasana disekitar Sungai Banjir Kanal Barat.(yusvikasari) 

Archive

free counters


Dalam menjalankan tugasnya semua wartawan Muara Pos dibekali Surat Tuas dan ID Card serta namanya tercantum dalam Box Redaksi

Kisah Nyata

Sosok