Headline

Total Pengunjung

Advertorial

Berita Terkini

Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan

05/09/13

Gedung Bioskop Sena Bumiayu, Tinggalkan Kenangan Sejarah.


Brebes(MP)-  Kota Bumiayu yang terletak diwilayah selatan Kabupaten Brebes  Jawa Tengah, menjadi daerah penghubung antara pantura dan selatan, jalur Kota Tegal- Purwokerto.  Di kota kecil ini berdiri sebuah gedung Bioskop Sena yang kini keberadaanya cukup memprihatinkan, hanya menyisakan bangunan kuno dan  dibiarkan begitu saja, konon kabarnya bangunan bersejarah ini didirikan sejak awal Tahun 1951.

Bangunan yang berlokasi dijantung Kota Bumiayu atau di Jalan KH Ahmad Dahlan merupakan satu-saunya tempat hiburan rakyat dari generasi ke generasi. Pasalnya, sejak jaman penjajahan sering dijadikan pementasan kesenian ketoprak, sandiwara dan tonil, dan yang tidak asing lagi dipentaskan adalah cerita Kamandaka.

“Sekarang dengan maraknya media elektronik seperti televisi, video dan sejenisnya menjadikan Bioskop Sena gulung tikar, karena kini  masyarakat sudah  beralih ke media yang ada di rumah masing-masing, dan itu terjadi sejak mulai tahun 1980,” terang Sahroni (83) warga setempat.

Dikatakan dia, dijaman sebelumnya juga terjadi pasang surut, apalagi sepanjang revolusi (1945-1949) lokasi ini menjadi sepi, baru pada 1951 di bangun gedung hiburan yang pada awalnya diberi nama Venus. Namun Venus berganti nama menjadi Sena, karena pada saat itu dinilai terlalu kebarat-baratan. Sebelum meletus Gestok (Gerakan Satu Oktober) tahun 1965 gedung Sena sudah terkenal.

Hal senada dikatakan Tan Ing Haay (71) warga keturunan Tionghoa yang tinggal tidak jauh dari bangunan gedung Sena. Menurutnya, gedung Sena berdiri diatas lahan bekas sekolah milik warga Tiong Hwa Hwee Koan (THHK) dan awal pendiriannya mulai dilakukan sekitar tahun 1951. Sebelumnya, pada tahun 1947 saat agresi militer Belanda I terjadi, rakyat membakar habis sekolah Tionghoa. Saat itu rakyat beranggapan komunitas Tionghoa tidak pro terhadap kemerdekaan.

“Akhirnya oleh rakyat dan tentara, bekas bangunan sekolah tersebut dibangun gedung baru untuk tempat pertunjukan yang pada saat itu belum bernama Gedung Sena. Sena lantas dimanfaatkan sebagai tempat hiburan rakyat dan tentara sehabis perang kemerdekaan,” ungkap Pengurus Yayasan Eka Bhakti selaku penerus THHK ini.

Saat ini pun kondisi Gedung/Gedong Sena tidak terawat, selain menyisakan tembok yang memang masih berdiri kokoh, rumput liar tumbuh lebat didalamnya. Kondisi ini cukup disayangkan oleh sejumlah aktivis seni yang ada di Bumiayu, karena menurut mereka, Gedong Sena masih memiliki roh sebagai gedung tempat hiburan bagi masyarakat.

Budi, salah satu pegiat seni dan budaya Bumiayu mengaku saat ini merasa kesulitan dalam menuangkan karyanya. “Jika saja pemerintah mau menghidupkan kembali Gedong Sena, tentu bisa mewadahi kami untuk berkarya,” ujarnya. (imam suwondo)



30/08/13

Cerita penjaga gaib di rumah dan mobil orang Bali



Nama Bali tentu tak asing di telinga kita. Pulau yang berada di wilayah Indonesia tengah itu terkenal dengan pariwisatanya yang telah mendunia.
Tiap harinya, wisatawan dari berbagai belahan dunia datang ke tempat itu. Pulau Dewata itu pun tumbuh menjadi daerah pariwisata dengan segala kegemerlapan dan keglamorannya.
Namun, di balik semua itu, Bali juga menyimpan hal mistis. Contohnya adalah kepercayaan orang Bali untuk memberi sesajen di pura kecil yang ada di depan rumah setiap orang Bali.
Hal itu dilakukan warga Bali bukan tanpa alasan. Mereka percaya pura kecil yang ada di depan rumah ada penunggu gaibnya. Karenanya tiap pagi atau sore hari mereka selalu bersembahyang di pura itu dengan membawa sesajen.
“Kita percaya itu ada penunggunya. Kalau nggak dikasih (sesajen) kita percaya ada dampaknya. Misal kena musibah, keluarga ribut terus, pokoknya ada saja sialnya. Pokoknya tiap orang Bali pasti ada pura kecil di depan rumahnya,” kata Kade (25), warga Bali yang sehari-hari berprofesi sebagai pemandu wisata para turis kepada merdeka.com di Bali, Sabtu (15/6).
Tak hanya di depan rumah, di setiap mobil warga Bali juga terdapat semacam altar yang diberikan sesaji. Tujuannya sama, agar diberi keselamatan dan kebaikan.
“Kan sebelum kita berangkat kerja kita sembahyang di rumah dan mobil. Kalau punya saya yang di mobil itu saya namakan Caknang. Kita minta keselamatan dan rezeki. Enam bulannya kita kasih sajen, buah atau apa,” kata pria yang tinggal di Pantai Sanur itu.
Menurutnya, tiap enam sekali warga bali melakukan upacara di pura kecil di depan rumah dan altar yang ada di mobil. Air yang digunakan untuk upacara pun tak boleh sembarangan. Sebab, harus berasal dari pura besar.
“Tiap enam bulan harus dikasih sesajen, kalau nggak kan ada penunggunya bisa ngamuk,” katanya.
Daftar Pustaka
Mardani. (2013). Kumpulan berita mistis. Diakses pada tanggal 19 Mei 2013 pada

Sepenggal Doa Ibunda



 “Masa silam saya kelam,” ucap anak muda itu mengenang masa lalunya. Penampilannya yang necis tak membersitkan sedikit pun sebagai mantan pecandu obat terlarang. Rambut lurus bagai kucai dipotong pendek. Sisirannya yang dibelah tengah menambah tampilan lebih apik. Semburat wajahnya menyimpan keteduhan.
“Dulu, ganja, putaw, atau sabu adalah teman setia saya,” lanjut pemuda itu. Awal dirinya berkenalan dengan barang-barang terlarang adalah dari teman bergaul. Beberapa teman sepermainan menyeretnya untuk coba-coba mengisapnya. Satu, dua kali hingga akhirnya menjadi candu. Dirinya menemukan suasana lain setelah mengonsumsi obat-obat tersebut, fly. Semakin hari, dari waktu ke waktu, intensitas pemakaian obat itu pun bertambah. Akhirnya, dia merasakan, apabila tidak mendapatkan obat terkutuk tersebut, dia merasa tersiksa.
“Bahkan, sampai saya harus menyilet lengan saya lalu saya isap darah yang keluar. Itu jika saya tak bisa mendapatkan barang setan tersebut,” tuturnya datar seraya memperlihatkan bagian kedua lengannya yang diiris-iris untuk diisap darahnya.
Beragam obat terlarang pernah masuk ke dalam tubuhnya. Mulai yang diisap hingga yang disuntikkan. Saat itu, dirinya benar-benar terjerat sekawanan setan. Tidak bisa lepas. Teramat sangat sulit untuk memisahkan diri dari mereka. Setiap saat seakan-akan dirinya dikuntit, terus disodori barang-barang terlarang.
Nasihat dari orang tuanya tidak pernah dihiraukannya. Begitu pula nasihat dari saudara-saudara atau sanak famili, didengarnya, tetapi tidak pernah digubris. Ia pun tetap bergelut dengan narkoba. Bisik rayu setan lebih ampuh baginya dibandingkan dengan nasihat. Perangkap Iblis benar-benar mencengkeramnya.
“Karena saya tidak pernah menghiraukan nasihat, ada saudara orang tua saya yang mengusulkan agar saya tidak lagi diakui sebagai anak,” akunya. “Namun, ibu saya tidak setuju,” paparnya sendu mengenang hal itu.
Akibat perbuatannya, nama baik keluarga tercoreng di hadapan masyarakat. Apalagi ibunya adalah seorang pegiat dakwah. Ibunya sering diminta mengisi berbagai pengajian. Tidak sedikit masyarakat yang mencemooh dan melecehkan orang tuanya, terutama ibunya. Bisa mengajari orang lain, tetapi anak kandungnya sendiri terjerat nafsu setan. Begitulah di antara kata-kata yang terlontar.
Sungguh, orang tuanya benar-benar sedang diuji. Tidak mengherankan apabila saudara-saudaranya mengusulkan agar dirinya dibuang, dikeluarkan dari anggota keluarga, dan tidak diakui lagi sebagai anak. Ini semua karena beratnya menanggung malu. Ya, malu karena nama baik keluarga tercoreng.
Di tengah cemooh, cercaan, dan hinaan sebagian orang, ibunya tetap sabar. “Setiap ada waktu, ibu selalu menasihati saya. Ibu selalu memberi kelembutan kepada saya,” kenangnya. Ia berusaha untuk tidak menitikkan air mata. Ia berupaya tegar saat mengenang ibunya yang penyabar. Anak muda itu menghela napas panjang. Suasana sunyi. Daun di pepohonan bergoyang tersentuh angin. Langit biru tersaput tipis awan putih.
Satu malam, ibunya terbangun. Seperti biasa, ibunya menunaikan shalat tahajud. Malam demi malam dilaluinya dengan munajat kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Malam demi malam ditaburinya dengan rukuk, sujud, zikir, dan doa. “Saat ibu tengah bermunajat, saya terbangun. Saya tatap ibu yang terselubung mukena putih. Seakan-akan mata tak mau berkedip. Saya tatap terus ibu,” ucapnya sungguh-sungguh.
Ia melanjutkan, “Saat saya menatap ibu, saya seperti diingatkan. Malam itu, kesadaran menyelinap ke dalam hati. Malam itu, saya bertobat,” kisahnya mengenang detik-detik tobatnya.
Sejak peristiwa itu, kehidupan anak muda tersebut berubah drastis. Semangat hidupnya mencuat kembali. Kepedulian terhadap agama pun tumbuh. Ibadahnya mulai berlangsung teratur. Pemuda itu telah insaf, meniti kembali jalan yang benar. Kegelapan yang selama ini menyelimuti, sirna. Ia berada dalam cahaya terang benderang. Ia yakin, semua ini tak luput dari sepenggal doa ibunda, setelah kehendak Allah Subhanallahu wa Ta’ala.
Kisah di atas nyata, diungkapkan langsung kepada penulis sekitar tahun 1980-an.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“Tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang safar (dalam perjalanan), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3448 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullahu dalam ash-Shahihah no. 598 dan 1797)
[kisah ini diambil dari tulisan panjang Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin berjudul: Sepenggal Doa Ibunda, dalam majalah Asy Syariah no. 76/VII/1432 H/2011, hal. 29-30]

Kisah Menakjubkan Istri Shalihah yang Dimadu



Dahulu di Baghdad ada seorang laki-laki penjual kain yang kaya. Tatkala dia sedang berada di tokonya, datanglah seorang gadis muda mencari-cari sesuatu yang hendak dibeli. Ketika sedang berbicara, tiba-tiba gadis itu menyingkap wajahnya di sela-sela perbincangan tersebut sehingga laki-laki terrebut terkesima dan berkata, “Demi Allah, aku terpana dengan apa yang kulihat.”
Gadis itupun berkata, “Kedatanganku bukan untuk membeli apapun. Selama beberapa hari ini aku keluar masuk pasar untuk mencari seorang pria yang menarik hatiku dan bersedia menikah denganku. Dan engkau telah membuatku tertarik. Aku memiliki harta. Apakah engkau mau menikah denganku?”
Laki-laki itu berkata, “Aku telah menikahi sepupuku, dialah istriku. Aku telah berjanji kepadanya untuk tidak membuatnya cemburu dan aku juga telah mempunyai seorang anak darinya.”
Wanita itu mengatakan, “Aku rela jika engkau hanya mendatangiku dua kali dalam seminggu.” Akhirnya laki-laki itupun setuju lalu bangkit bersamanya. Akad nikah pun dilakukan. Kemudian dia pergi menuju rumah gadis tersebut dan berhubungan dengannya.
Setelah itu, si pedagang kain pulang ke rumahnya lalu berkata kepada istrinya, “Ada teman yang memintaku tinggal semalam di rumahnya.” Dia pun pergi dan bermalam bersama istri barunya.
Setiap hari setelah zhuhur dia mengunjungi istri barunya. Hal ini berlangsung selama delapan bulan, hingga akhirnya istrinya yang pertama mulai merasa aneh dengan keadaannya. Dia berkata kepada pembantunya, “Jika suamiku keluar, perhatikanlah ke mana dia pergi.”
Si pembantu pun membuntuti suami majikannya pergi ke toko, namun ketika tiba waktu zhuhur dia pergi lagi. Si pembantu terus membuntuti tanpa diketahui hingga tibalah suami majikannya itu di rumah istri yang baru. Pembantu itu mendatangi tetangga-tetangga sekitar dan bertanya, “Rumah siapakah ini?” Mereka menjawab, “Rumah milik seorang wanita yang telah menikah dengan seorang penjual kain.”
Pembantu itu segera pulang menemui majikannya lalu menceritakan hal tersebut. Majikannya berpesan, “Hati-hati, jangan sampai ada seorang pun yang lain mengetahui hal ini.” Dan istri lama si pedagang kain juga tetap bersikap seperti biasa terhadap suaminya.
Si pedagang kain menjalani kehidupan bersama istrinya yang baru selama satu tahun. Lalu dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia dengan meninggalkan warisan sebanyak delapan ribu dinar. Maka istri yang pertama membagi harta warisan yang berhak diterima oleh putranya, yaitu tujuh ribu dinar. Sementara sisanya yang berjumlah seribu dinar ia bagi menjadi dua. Satu bagian ia letakkan di dalam kantong, kemudian ia berkata kepada pembantunya, “Ambillah kantong ini dan pergilah ke rumah wanita itu. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah meninggal dengan mewariskan uang sebesar delapan rib dinar. Putranya telah mengambil tujuh ribu dinar yang menjadi haknya, dan sisanya seribu dinar aku bagi denganmu, masing-masing memperoleh setengah. Inilah bagian untukmu. Dan sampaikan salamku juga untuknya.”
Si pembantu pun pergi ke rumah istri kedua si pedagang kain, kemudian mengetuk pintu. Setelah masuk, disampaikannyalah berita tentang kematian si pedagang kain, dan pesan dari istri pertamanya. Wanita itupun menangis, lalu membuka kotak miliknya dan mengeluarkan secarik kertas seraya berkata kepada si pembantu, “Kembalilah kepada majikanmu dan sampaikan salamku untuknya. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah menceraikanku dan telah menulis surat cerai untukku. Maka kembalikanlah harta ini kepadanya karena sesungguhnya aku tidak berhak mendapatkan harta warisannya sedikitpun.” (Shifatus Shofwah, 2/532)
Subhanallah…….
Dinukil dari: Majalah Akhwat Shalihah vol. 16/1433 H/2012, dalam artikel “Mutiara Berkilau para Wanita Shalihah” oleh Syaikh Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim hafizhahullah, hal. 68-69.


04/02/12

Demi Hidup Aku Melacur, dan Menjual Keperawanan Anakku

Aku adalah ibu dari dua anakku, umurku saat ini tiga puluh enam tahun. Sejak aku ditinggal suamiku, hidupku tidak menentu, untuk menghidupi kedua anakku, aku bekerja jadi pelayan warung makan. Bayaran menjadi pembantu tidaklah mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi untuk menyekolahkan anakku, jelas aku tidak mampu, maka kedua anakku kutitipkan pada orang tuaku. Oleh orang tuaku anakku lantas disekolahkan di Pondok Pesantren Babakan Lebaksiu, Kabupaten Tegal.

Jadi Pelayan warung
    Tiap hari aku meladeni makan para pelanggan warung. Dari sekian banyak pelanggan, ada pelanggan warung yang selalu memperhatikanku. Tiap makan siang ia selalu minta diladeni aku, padahal pelayan yang lain juga ada. Lama-lama pelanggan itu bersimpati dan berencana ingin menikahiku, walau ia tahu posisiku janda beranak dua.
  
Tawaran itu tidak langsung aku terima, aku khawatir jangan-jangan nanti aku di tinggal lagi. Namun karena desakan dan hampir tiap hari aku ketemu dengan pelanggan itu, lama-lama aku tertarik juga dengan ajakannya untuk menikahiku, pikiranku bagaimana aku mampu menyekolahkan anakku, lagian calon suamiku terkesan penyabar dan ulet dalam bekerja, pasti akan membahagiakan aku beserta kedua anakku.

Dinikahi Seorang Sales    Waktu itu umurku sekitar dua puluh satu tahun. Palanggan warung makan itu akhirnya benar-benar menikahiku. Suami keduaku bekerja menjadi sales elektronik. Meskipun aku sudah nikah dengannya, tapi aku masih  diperbolehkan bekerja sebagai pelayan warung makan, pikirku untuk tambah-tambah pengahasilan. Hari-hari pertama pernikahan keduaku, ku lalui dengan suka cita, suamiku selalu mengingatkanku, agar jangan terlalu dekat dengan pelanggan warung, dan nasehat itu kuingat terus. Namun karena memang diwarung itu aku dituntut oleh majikan untuk ramah kepada setiap pelanggan akupun tetap bekerja apa adanya. Sayangnya, suamiku terkesan membatasi gerakku.

    Berawal dari rasa cemburu, suamiku selalu menanyaiku tentang tamu-tamu warung yang biasa makan, dan aku pun tidak sungkan untuk menjelaskannya, kukatakan bahwa mereka para pelanggan tidak mungkin pacaran denganku, sebab aku sudah punya suami. Memang suamiku tipe pencemburu, apalagi kalau ada tugas luar kota, pulangnya pasti ngomel dan marah-marah, menuduhku selingkuh dengan pelanggan warung, bahkan suamiku sudah berani menampar pipiku. Kebahagianan yang kudamba hanya sebatas angan-angan, justru setelah nikah suamiku menjadi kasar dan suka marah-marah. Boro-boro membantu ekonomi, suamiku ternyata penjudi, bahkan uang perusahaan dipakai, sehingga bayaranku sebagai pelayan warung hanya untuk menomboki hutang-hutangnya. Jika tidak diberi maka aku dipukuli hingga wajahku memar, penderitaanku semakin lengkap.

    Dulu saat aku menjadi janda banyak lelaki yang suka memberiku uang, alas an mereka, ya…sekedar untuk uang jajan anaku, tapi setelah nikah malah banyak pelanggan warung yang menjauhiku. Ditambah watak keras suamiku membuat pelanggan warung enggan makan diwarung tempat aku bekerja. Melihat warung selalu sepi karena ditinggal pelanggan, majikanku jadi bangkrut dan warungnya pun tutup. Meskipun warungnya tutup, aku masih diperbolehkan menunggui, bahkan warung sebagai tempat tinggalku sementara.

Suamiku Selingkuhi Aku    Suamiku mulai jarang pulang, awalnya aku tidak curiga pada perilaku suamiku, suatu hari aku mendapat informasi dari sesama sales, bahwa suamiku sering tidur dengan temanku sesama pekerja warung. Seakan remuk redap dan hancur hatiku, namun kuhilangkan jauh-jauh rasa curiga itu. Akan tetapi, karena seringnya suamiku jarang pulang, lama-lama aku ingin menyelidiki keberadaan suamiku.

    Bagai disambar geledek, hatiku berdegup keras, saat kulihat suamiku bersama Lastri temanku sesama pekerja warung, sudah tinggal seatap dirumah kontrakan. Aku hanya diam dan tak mampu berkata apapun. Dalam duka aku lalu pergi meninggalkan suamiku yang sedang berselingkuh dengan temanku.

Bekerja Dilokalisasi Hingga Jadi Simpanan Camat    Sejak peristiwa itu hidupku jadi tidak menentu, aku benci pada lelaki. Beruntung, aku belum sempat punya anak dengan suami keduaku. Demi mempertahankan hidup dan tuntutan perut, akhirnya aku bekerja diwarung lokalisasi sekedar untuk menghibur diri. Awalnya aku hanya menemani tamu-tamu untuk minum bir, dari sekedar ngobrol menemani tamu, aku sering diberi uang oleh tamu-tamu itu, dan lama-lama aku tertarik dengan pekerjaan baruku.

    Kemudian majikanku menawari aku untuk tetap tinggal di mess, waktu itu aku sempat jadi primadona di lokalisasi, bahkan aku menjadi istri simpanan salah seorang camat di Kabupaten Tegal. Aku tidak boleh menerima tamu, aku di kos-kan dikamar khusus, segala kebutuhanku dicukupi, termasuk biaya anak-anakku yang sedang mondok di pesantren. Kehidupan ekonomi mulai membaik, aku bagai burung piaraan yang tidak boleh terbang bebas. Ya…namanya piaraan, tubuh molekku selalu kurawat, dari senam kebugaran sampai lulur, bahkan perawatan wajah. Aku selalu rutin menjaganya, itu semua atas saran pak camat yang betul-betul kesengsem dan tergila-gila akan kecantikan wajahku. Sehingga hampir setiap siang hari pak camat selalu menemaniku tidur, bahkan kalau malam hari sesekali pak camat bermalam bersamaku. Tak terasa hubunganku dengan pak camat sudah eman tahun, selama itu juga istri pak camat tidak mengetahuinya, kalau suaminya punya perempuan simpanan.

Aku Selingkuh Dengan Anak Camat    Suatu malam datanglah seorang pemuda ganteng bersama oknum aparat dari Pemalang, aku disuruh menemani minum bir, lalu pemuda itu tertarik denganku. Akhirnya pertemuan pertama itu berlanjut diranjang. Hubunganku dengan pemuda ganteng itu terus berlanjut tanpa sepengetahuan pak camat, sebab pak camat mengunjungiku hanya setiap siang saja, itupun saat jam-jam kantor, atau pas makan siang. Sedang malam hari pak camat jarang sekali menemuiku. Maka malam hari kumanfaatkan untuk mencari mangsa baru. Kebetulan aku jatuh hati pada pemuda ganteng, pemuda itu pun mencintaiku. Jadi jika malam aku menjadi kekasih pemuda itu, sedang siang harinya aku meladeni pak camat.

    Hingga suatu hari ada teman sesama pramunikmat mengabariku, bahwa pemuda ganteng yang jadi langgananku adalah anaknya pak camat. Mendengar kabar demikian aku pura-pura tidak tahu, bahkan tiap kali pemuda itu meniduriku, aku tidak pernah cerita, kalau bapaknya jika siang hari tidur bersamaku juga. Dalam benakku yang ada adalah uang, uang dan uang, sehingga aku tidak peduli siapapun, yang penting jika ingin menikmati tubuh mulusku harus bayar.

    Entah dari siapa yang membocorkan rahasia ini ke pak camat, rupa-rupanya pak camat mengerti tentang hubunganku dengan anaknya, hingga pak camat jarang mengunjungiku, mungkin malu atau marah padaku, karena ketahuan bersama anaknya, ataukah sebab lain, aku juga tidak mengerti. Seolah-olah putus, jarang memberiku uang lagi dan anaknya juga mulai jarang mengunjungiku.

Aku Dilirik Aparat    Putus dengan pak camat dan anaknya, aku mulai dilirik oleh kepala aparat yang bertugas disalah satu satuan di Slawi, tapi tidak ditempatkan khusus seperti pak camat. Aku dibiarkan mencari langganan baru, termasuk kepada para oknum  petugas yang sering mengumbar nafsu birahinya. Biasanya lelaki hidung belang yang berpangkat kroco suka minta bayaran separo, tidak seperti pengedeanya yang kalau habis menikmati tubuhku, ia berani membayar mahal. Jujur saja setelah aku dipegang kapolsek itu, setiap ada razia aku selalu dapat bocoran, sehingga aku tidak pernah digaruk. Buruknya sang kepala aparat itu selalu Cipto alias "Nyicipi roto" . hampir tiap ada pendatang baru atau anyaran selalu dinikmati lebih dulu, sehingga teman-teman di komplek menyebutnya pak Cipto (suka nyicip roto).

Anaku Berhenti Sekolah
    Tak terasa seiring dengan jalannya waktu, usiaku bertambah, pamorku mulai pudar, banyak pendatang baru yang cantik-cantik, maka aku mulai kehilangan pelanggan. Sementara anakku yang dipondok baru kelas dua MTs (Madrasah Tsanawiyah), karena postur tubuhnya besar, terkesan sudah sangat dewasa aku khawatir anaku putus sekolah, sehingga kalau liburan sekolah, anakku selalu didatangi teman-temannya yang kebanyakan cowok. Aku khawatir jangan-jangan anaku sudah mengerti pacaran. Dugaanku benar, anaku berhenti tidak mau sekolah….
bersambung

Ilmu Pengasihan Adalah Syirik

Oleh : Ust. Taufik

Dikisahkan disebuah pedesaan, yakni Desa Sawojajar diwilayah Kabupaten Brebes hiduplah seorang yang kaya raya. Sebut saja Darwis (nama samaran) dan istrinya Sulastri (nama samaran). Mereka hidup berkecukupan, sawah berhektar-hektar, dan mobil mewah pun telah dimilikinya.
 
  Pada suatu hari mereka kedatangan anaknya, Sumadi (nama samaran) dan istrinya Wulan (nama samaran) dengan membawa anaknya yang masih berusia 9 bulan, mereka datang dari Jakarta untuk menjenguk orang tuanya.

    Selang beberapa hari, ketika mereka tinggal dirumah orang tuanya, Sumadi didatangi sesosok ular yang menyelinap masuk ke kamarnya, spontan karena kaget langsung saja ular tersebut dibunuhnya, dan ular itu lalu dipotong-potong hingga mati.

    Semenjak kejadian itu, anaknya yang masih kecil sering sakit. Bahkan tidak sadarkan diri selama 3 hari lamanya. Dengan kondisi seperti itu, melalui temannya Asep, Sumadi dikenalkan kepada seseorang yang dinilai mampu mengobati penyakit anaknya. Dia adalah Ustad Taufik dari Tegal.

    Dari perkenalan itu, akhirnya Ustad Taufik langsung melihat kondisi anaknya untuk memastikan penyakit apa yang diderita anak Sumadi. Kesimpulannya, setelah melihat kondisinya, Ustad Taufik mengatakan bahwa penyakit ini merupakan campur tangan dari makhluk ghoib yang ingin mengambil nyawa anak itu, atau bisa dikatakan ada kaitanya dengan pesugihan.

    Dijelaskan Ustad Taufik, yang namanya ilmu pesugihan yakni adanya ijab kobul atau perjanjian dengan makhluk halus atau ghoib, yang nantinya ada pertukaran atau tumbal dari pihak manusia untuk dipersembahkan kepada makhluk ghoib sesuai dengan perjanjian. Sesembahan itu bisa berupa nyawa manusia, dan itu termasuk perbuatan syirik atau menyekutukan Allah SWT. Perbuatan itu jelas-jelas dilarang agama.

    Setelah melihat kondisi bunga, anak Sumadi yang masih tak sadarkan diri, Ustad Taufik memberikan air dan beberapa doa. Selang beberapa saat kemudian, Bunga terbangun dan Taufik pun berpamitan pulang ke Tegal. Ustad Taufik menyarankan kepada Sumadi untuk tidak tinggal dirumah orang tuannya yang dinilainya telah melakukan praktek ilmu pesugihan atau ilmu percupangan.

    Sumadi pun diberi beberapa nasehat agar selalu minta perlindungan kepada Allah SWT dengan selalu menjaga sholatnya, berdzikir dan senantiasa selalu ingat bahwa hidup hanya sekali, jangan digunakan untuk hal-hal yang bertentangan dengan agama Islam, apalagi sampai berbuat menyekutukan Allah SWT. (*)

Siluet Sang Biduan

Oleh : Lanang Setiawan

INI kisah perjalanan jurnalistikku ketika aku menjadi redaktur budaya di Harian Pagi Nirmala Post. Khususnya ketika aku mengantar Tia, seorang biduan dangdut muda belia, tiba-tiba kesurupan di tengah meruapnya pertunjukkan dangdut penuh aroma goyang cabul dan tebar sawer dari para penjoget.
Peristiwa itu seakan sebuah perjalanan takdir manusia yang telah dicatat di buku besar langit lauchul machfudh. Tak seorang pun mampu mendongkelnya atau menggeser. Maka hampir tak kupercaya ketika peristiwa itu menimpa Tia, gadisku! Sungguh peristiwa yang menakjubkan itu, oleh masyarakat pesisir pantai utara Tegal dikenal sebagai peristiwa mistik dan klenik.

Ya! Semula, peristiwa itu terjadi ketika Tia membawakan lagu Tragedi Jatilawang ciptaanku berlanjut lagu Mas Tommy, sekonyong-konyong terjadi sebuah peristiwa, yang sepanjang hidupku baru pertama kali aku saksikan. Seberkas cahaya putih entah dari mana datangnya tertangkap video kamera digitalku. Kejadian itu terekam saat aku menyisir aktivitas penjoget di pelataran pintu masuk di antara berjubelnya penonton.

Kameraku terus terarahkan pada sosok bayangan putih melayang-layang di atas langit-langit layos dan bablas menuju panggung melewati ubun-ubunku. Semerbak wewangian lebih dari sekadar bau minyak cendana menerjang hidungku.

Di bawah sorot cahaya lampu terang benderang, sosok bayangan putih itu manglih rupa atau berubah bentuk menjadi seorang putri cantik. Ia mengenakan gaun tipis bersulam sutra tembus pandang warna pupus. Sedemikian jelita ia mengenakan mahkota ratu dengan gerai rambut panjang kelam berkilauan bak mutiara. Belum pernah aku melihat wujud manusia secantik dia sekalipun dalam khayalan.

Putri cantik berwajah aristokrat dan berdarah bangsawan dengan sorot mata dingin, beku, sombong, dan angkuh itu tampil di layar kameraku begitu jelas. Aku ternganga dan sepanjang detik-detik berjalan takjub bukan kepalang meski seluruh anggota badanku mengeluarkan embun keringat dingin, dan aku kira wajahku pucat pasi seperti tak dialiri darah merah.

Video kamera digitalku tak sejengkal pun bergeser membidik gerak-gerik sang putri misteri itu melayang-layang di sekitar arena panggung. Dan subhanallah.... begitu mudahnya 'sang putri' menukik merasuk ke dalam tubuh Tia melalui ubun-ubun.

“Subhanallah… Subhanallah… Subhanallah….”
Bibirku berkali-kali menggumamkan Asma Allah. Tak urung tubuhku dililit udara dingin yang menggigilkan dan napasku memburu dengan dada terengah-engah seperti dikejar-kejar anjing.

Dalam gempuran gigilan tak henti-henti, aku tergesa-gesa menyimpan hasil rekam video dan kamera pun aku matikan. Aku ingin berteriak tapi bibirku kelu. Kerongkongan seperti menelan buah dukuh sebesar bulatan bola bekel. Yang aku sanggupi hanya mengulang menyebut Asma Allah dan membaca ayat suci Al Quran sebisa mungkin.

Ajaib! Daya kekuatan batin dan pikiranku tak terduga berangsur-angsur pulih dan normal kembali untuk menanti episode selanjutnya, yang mungkin bakal menyaksikan tontonan, entah bagaimana akhir dari peristiwa menakjubkan nanti.

Sebagai jurnalis kawakan dan telah digembleng berpuluhan tahun, peristiwa langka semacam itu pantang aku abaikan. Belum tentu momen mistik itu terulang dalam kejadian yang sama. Bener-bener sebuah penantian cukup mendebarkan!
Yang menjadi pertanyaan dalam benak kepalaku, adalah siapa gerangan putri misterius nan rupawan tiada tara merasuk ke dalam raga wadag Tia? Bidadarikah atau Maskumambang?

Pikiranku berputar-putar mencari pijakan reverensi. Dan sebagai orang yang lahir serta dibesarkan di daerah pesisir pantai utara Tegal, aku berani taruhan bahwa putri yang bergentayangan dan nyasar ke arena panggung pertunjukan di Sidakaton malam-malam seperti ini tak lain adalah Dewi Rantamsari, yaitu ruh halus penjaga pesisir Pantai Utara, Laut Jawa, yang biasa diperintah atau disuruh Pawang Sintren merasuk ke dalam tubuh Penari Sintren pada sebuah pagelaran.

Dalam sebuah Kesenian Sintren, mitos mistik Dewi Rantamsari berlatar belakang percintaan membara antara Ki Joko Bahu, putra Raja Mataram Sultan Agung dengan dirinya.
Percintaan mereka ternyata mendapat larangan keras dari Sultan Agung. Untuk memisahkan jalinan asmara mereka, Sultan Agung memerintahkan Ki Joko menyerang VOC di Batavia. Ki Joko melaksanakan titah Raja berangkat ke VOC dengan menggunakan perahu Kaladita (Kala-Adi-Duta). Saat berpisah dengan Dewi Rantamsari, Ki Joko memberikan saputangan sebagai tanda cinta dan kesetiaan.

Tak lama terbetik kabar bahwa Ki Joko gugur dalam medan pertempuran , sehingga Ramtamsari begitu sedih mendengar orang yang dicintai telah mati. Tapi terdorong oleh rasa cintanya yang mendalam dan begitu besar, Dewi Rantamsari melacak jejak gugur sang kekasih.
Melalui perjalanan sepanjang wilayah Pantai Utara ia menyamar menjadi seorang Penari Sintren dengan nama Dewi Sulasih. Dengan bantuan saputangan pemberian Ki Joko, mereka dipertemukan kembali dan hidup sebagai pasangan suami istri sampai akhir hayat.

Cerita itu sudah aku pahami betul karena sejak usiaku belasan tahun pagelaran Kesenian Sintren sering aku tonton, sampai pada peliputan tugas jurnalistik tak pernah aku abaikan. Jadi, aku punya kepastian betul bahwa ruh yang ngendon dalam tubuh Tia tak lain adalah Dewi Rantamsari.
Batu baterai kamera cepat-cepat aku ganti dengan yang baru. Aku menunggu detik-detik penuh debar dengan kamera tetap dalam posisi on. Di sudut panggung paling depan aku mengambil posisi dengan mata tak berkedip sesekali menjepret beberapa adegan. Usai itu menu video aku hidupkan lagi untuk mengabadikan jalannya pertunjukan. Dalam layar kameraku terlihat para penjoget mengulurkan uang sawer. Musik dacappo mengalir, Tia mendendangkan bait awal lagu.

Mas Tommy aduh Mas Tommy
Mas Tommy cowok slingkuhku
tak arep-arep nang malam minggu
Mas Tommy mesra merayu
kebek madu mendayu-dayu
Mas Tommy buluh perindu…

“Tobaatttt….kayong sungkan mati kyèh. Yahèèrrrr….” teriak Kang Warto disambut ketawa para penjoget yang lain.
“Iya Kang! Kayong ora émut sapa-sapa….”

Mata kameraku memantau aksi gerak-gerik perjoget. Tapi agaknya status profesi kewartawanku menjadi tameng tersendiri bagi Tia hingga perlakuan mereka tidak sertamerta sekepènaké wudel sebagaimana yang dilakukan mereka kepada teman-teman Tia, tak ubahnya barang mainan untuk diajak joget macam-macam bahkan sampai 'goyang' sesungguhnya.

Awal kenalan nang kafé impian
Mas Tommy yahèr mlastar gayané
Dadi rebutan nang kafé impian
oké dandané kaya wong gedongan

Aku kepencut karo Mas Tommy
samana uga Mas Tommy kepilut

Dengan suara lantang Tia menderaikan refrain laguku itu. Suasana semakin sumringah. Kamera terus aku bidikan ke mana Tia beraksi memberi pelayanan pada para penjoget satu per satu secara bergantian. Demi Tuhan, aku dibakar cemburu.

“Bangsat!” aku memaki diriku sendiri. Begini rasanya aku bercinta dengan sang biduan meski semua itu hanya sekadar pelayanan agar para penjoget merasakan kepuasan, tak urung dadaku berkecamuk oleh gejolak.
“Ini namanya siapa mas?” kata Tia seraya mendekati lelaki berkumis tipis mengenakan baju kotak-kotak.
“Santo!”
“Yang ini siapa?”
“Cagut.”
“Haaiiii….Mas Santo…Mas Cagut. Asyiikkkkkk…,” celotehnya menimbulkan rasa tidak keruan dalam dadaku. Beginilah rasanya berpacaran dengan pedangdut.

Saiki Mas Tommy cuma bayang-bayang
kafé impian dadi lamunan
Saiki Mas Tommy nang endi parané
langka kabaré langka britané

Aduh kejem nemen
Mas Tommy karo aku
ninggal botol racun mèrk madu…

Tia menyelesaikan putaran refrain terakhir disusul bait awal sambil menari dengan gerakan ke sana-kemari seperti bukan kehendaknya sendiri. Terkadang ia malah mendekati para penjoget satu demi satu dengan gerakan syurnya. Aku merasakan Tia berjoget dan menari ada yang mengendalikan. Bola matanya terpejam, dingin, kaku, dan rona mukanya sangat angkuh namun ia sangat awas menyambangi para penjoget. Tak ubahnya tarian dia seperti gerakan Penari Ronggeng atau Sintren.

“Ah…ah…ah…ser….”
Dari mulut Tia aku mendengar desir gumam cabul. Aku tidak habis pikir. Tapi tak urung mata kamera aku hidupkan lagi dan membuka menu video. Lantas aku mengarahkannya ke atas panggung mengikuti kemana langkah Tia berpolah.
Musik menderu-deru. Celoteh para penjoget semakin tak ada aturan melihat gaya Tia semakin edan-edanan.

Tiba-tiba, ruh Dewi Rantamsari yang bersemayam dalam raga Tia melesat ke luar melalui ubun-ubun.
“Subhanallah…subhanallah…subhanallah…” bibirku menggumam Asma Allah berulang kali.
Aku tidak tahu apakah para penjoget, pemusik, dan penonton melihat kejadian itu? Embuh temenlah! Yang jelas, dihadapanku terampar peristiwa penuh misteri dan mencengang pikiran sampai bulu kudukku merinding!

Di tengah rasa cekam merancau membelit jaringan seluruh anatomi tubuhku, sekonyong-konyong Tia jatuh terjerembab usai menyudahi lagu penghabisan. Aku terkesiap dan orang-orang di atas panggung seketika menghentikan joget begitu juga pemain musik. Mereka seakan-akan mendengar komando untuk menghentikan permainan musiknya menyebabkan suasana peralihan dari ingar-bingar menjadi senyap mendaulat. Tapi semua itu berlangsung hanya sekedipan mata, berubah menjadi suasana hiruk-pikuk seperti ada puting beliung.  Mereka berpandangan.

“Wadaw! Biduané pingsan mas! Tia semaput….”
Mereka geger dan gelisah melihat tubuh Tia tergolek. Um Kriwil pontang-panting keder melihat kejadian tak terduga-duga. Para pemusik bergerak maju.
“Bagaimana ini?”
 “Gotong…gotong…gotooonnngggg…..!”
 “Bawa masuk. Angkat rame-rame!”

 Aku berlari menaiki undakan tapi belum sampai ke tengah panggung, kakiku terantuk sepatu bot biduan. Tubuhku terhuyung-huyung.
“Aaaa…!”
Telingaku mendengar jeritan para biduan.

Seseorang dari pengusung tubuh Tia yang hendak turun dari panggung menabrak tubuhku. Kamera di tanganku terpelanting dan aku mendengar suara benda jatuh sedemikian kerasnya: Prak! Prak! Prak….!
Dalam keadaan panik dan sakit, aku berusaha bangkit hendak memburu kamera tapi tubuhku membentur keyboard. Seseorang bergegas berusaha menahan jatuhnya alat musik itu namun karena tergesa-gesa badan dia malah menabrak kepalaku. Tak ampun lagi, orang itu terjerembab jatuh bersamaan alat musik itu roboh menimbulkan suara berdebam. Orang-orang berteriak-teriak. Tapi di tengah teriakan mereka, telingaku sempat mendengar kepanikan orang-orang yang mengusung Tia.

“Kasih jalan mas…tolong kasih jalan! Biduannya pingsan!”
 “Langsung masuk saja mas! Bawa ke kamar.”
“Minggir…minggir….”
“Kasih jalan! Jangan di depan pintu!”

Kisruh betul suasana malam itu, massa berlarian ingin tahu apa yang sedang terjadi.
Aku bersusah payah seperti orang mengendap-endap dan merangkak-rangkak dengan tanganku meraba-raba ke segala sudut mencari kamera. Aku berharap, sekiranya kameraku pecah berantakan, asal chip memori penyimpanan data foto dan hasil rekaman peristiwa itu bisa aku temukan.
Masih aku dengar derap langkah dan keriuhan massa merangsek berlarian menuju rumah yang punya hajat. Keinginan mereka mengetahui sebab akibat kejadian itu begitu kuat.

“Mulanya gimana sih? Kok sampai pingsan segala?”
“Embuh! Tidak ngerti tuh! Tanyai sendiri panitianya.”
“Kecapaian kali!”
“Gara-gara goyang terlalu hot, akibatnya ya seperti itu….”
Dan berbagai sangkaan asal-asalan saling berloncatan dari mulut mereka. Pada tahu apa mereka? Bercuap-cuap seenak udel? Kalian tidak banyak tahu, ngerti apa?

Lorong dan kisi-kisi kursi, audio monitor, tumpukan kendang, dan segala sudut panggung aku kosek-kosek tak ubahnya seperti anak kecil yang tersesat mencari ayah ibu di tengah keriuhan lautan massa dalam satu tontonan atraksi marching drumband, tapi usahaku sia-sia tetap tak menemukan benda yang aku cari.
Cukup lama aku sibuk dengan diri sendiri tanpa lagi mempedulikan suasana sekeliling. Aku menyumpah-nyumpah dan mengutuki orang yang menabrak diriku.
Aku turun dari atas panggung dan mataku menelusuri tepi-tepinya.

“Cari apa mas?” seseorang bertanya.
“Kamera,” aku menjawab tapi tanpa melihat siapa yang bertanya.
“Oh….”
Orang yang bertanya berlalu. Di sampingku orang-orang berseliweran. Deretan kursi tamu undangan terlihat sepi. Semua beranjak memburu ke tempat tinggal yang punya hajat. Telingaku kembali mendengar teriakan lantang.
“Bubar…bubar! Tahu ada orang pingsan, berkerumun di sini ngapain?!”

Naik turun panggung aku bolak-balik mencari kamera. Alhamdulillah… teronggok di sudut kursi paling belakang aku menemukan kameraku tapi dalam ujud yang sudah merana. Layar kamera pecah, tutup dan dua baterai charger entah kemana. Tapi yang menyedihkan sekali tangkai zoom kameraku patah bersama lenyapnya chip memori card. Aku dibuat tertegun dengan perasaan amat pedih dan terpukul.

Aku sia-sia mencarinya sekeping chip sampai akhirnya aku termangu-mangu di sudut panggung dengan napas terengah-engah sedang bibirku kelu membeku bisu. Mataku menerawang hampa. Berbagai perasaan galau, merancau, getir, kisruh, dan seperti orang telantar berkecamuk melilit-lilit mendera kesadaranku. Aku merasakan jiwaku dibetot, disayat sembilu, dan melesat merangkak ke pangkal pagi. Lalu pada batas titik kesadaranku paling terendah, jiwaku oleng dan drop!

Aku tersedu-sedu dan sesenggukan menangisi semua data yang tersimpan di chipku, hilang tanpa kerana!   ☼

Archive

free counters


Dalam menjalankan tugasnya semua wartawan Muara Pos dibekali Surat Tuas dan ID Card serta namanya tercantum dalam Box Redaksi

Kisah Nyata

Sosok